Jual dan Beli kambing domba daerah Medan dan Sekitarnya
Hubungi kami : 0813 702 04 175

Rabu, 16 Januari 2013

Bekatul Fermentasi Genjot Bobot Ayam



PDF
Print
E-mail

Written by Mang Kabayan   

Bekatul atau dedak halus sudah lama dipakai sebagai campuran pakan ternak seperti bungkil jagung dan kedelai. Selain harganya murah, Rp1.200 - Rp1.500/kg, kadar protein yang dikandung kulit bulir padi itu cukup tinggi mencapai 10 - 12%. 'Pemakaian bekatul mencapai 20 - 30% dari total pakan,' kata Sobri. Sayangnya, bekatul mudah tengik karena memiliki ikatan asam lemak tidak jenuh.
Kelemahan lain, bekatul mengandung asam fitat. Asam ini merupakan zat antinutrisi yang mampu berikatan dengan protein dan mineral seperti Ca, P, Fe, Zn, dan Mg. 'Asam fitat sulit larut di air dan tahan panas. Sebab itu bekatul sulit dicerna,' kata Sobri yang merangkap dosen peternakan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jawa Timur.


Enzim fitase

Asam fitat di bekatul memang dapat menghambat pertumbuhan. Terikatnya fosfor, misalnya, mengganggu pertumbuhan tulang dan kenaikan bobot tubuh ayam. Menurut Ir A rnold P Sinurat, MS. PhD, peneliti utama Balai Penelitian Ternak (Balitnak) di Ciawi, Bogor, ayam perlu 0,4 - 0,5% fosfor di dalam pakan. Jumlah fosfor merosot karena terikat asam fitat. 'Fosfor yang tersedia hanya 0,25%,' kata Arnold. Sebab itu dibutuhkan enzim fitase untuk meningkatkan kadar fosfor.
Enzim fitase memecah asam fitat menjadi lebih sederhana. Pada hewan ruminansia, enzim fitase diproduksi oleh rumen. Berbeda dengan keluarga monogastrik alias lambung tunggal seperti keluarga unggas, enzim fitase yang dihasilkan sedikit.
Enzim fitase dapat diproduksi melalui fermentasi. Adalah Sujono yang menfermentasi bekatul sejak 2001. Sujono memakai kapang tempe Rhizophus oligosporus yang mudah diperoleh sebanyak 2%. Itu terbukti mampu memecah asam fitat menjadi asam lemak tak jenuh. Saat itu karbohidrat, lemak, dan protein terhidrolisis menjadi senyawa sederhana.
Dalam bekatul terfermentasi pun terdapat asam lemak tidak jenuh tunggal dan majemuk, antioksidan faktor 2, serta enzim superoksida dismutase. Selain itu vitamin B dan asam amino meningkat. Asam amino, misalnya, naik dari 7,36% menjadi 12,37% dan protein dari 12,09% menjadi 18,82%. Ujungnya proses metabolisme kian lancar dan pertumbuhan optimal.
Rendah kolesterol
Berdasarkan pengamatan Sujono porsi bekatul fermentasi sebagai campuran pakan dapat ditingkatkan sampai 40%. Ini menguntungkan peternak karena menghemat biaya pakan. Ongkos fermentasi bekatul Rp150 - Rp200/kg. 'Ini masih lebih irit Rp200/kg dari total ransum,' tutur Sobri. Nilai itu dihitung dari harga pakan yang terus meningkat: jagung Rp2.500 - Rp3.000/kg dan kedelai Rp5.600/kg.
Bekatul fermentasi memiliki keistimewaan lain, yakni menurunkan kolesterol daging dari 54,44 mg menjadi 29,59 mg. Begitu pula kolesterol telur, turun menjadi 196,49 mg/100 g bahan kering dari 252,07 mg/100 g bahan kering. Itu artinya, daging dan telur ayam broiler sehat dikonsumsi.
Tak hanya bekatul, bahan lain seperti solid heavy phase (SHP) dari limbah cair sawit, singkong, daun singkong, onggok, kelapa, ampas sagu, dan biji kopi, bisa difermentasi untuk campuran pakan. Itu dilakukan Balai Penelitian Ternak (Balitnak) Ciawi, Bogor. Pada 2007 balai itu memperkenalkan fermentasi SHP sebagai pengganti 25% jagung. Mikroba yang dipakai sangat adaptif, mudah berbiak, dan tidak menghasilkan racun.
Proses fermentasi menunjukkan terjadinya penurunan serat kasar, peningkatan protein, asam amino, dan energi metabolisme. Dengan memfermentasi bahan-bahan campuran pakan, seperti bekatul dan SHP, peternak memperoleh banyak keuntungan. (Lastioro Anmi Tambunan)
Bekatul Fermentasi Genjot Bobot Ayam Oleh trubusid_admindb Kamis, Oktober 01, 2009 19:38:40 
BUKAN TANPA SEBAB MUHAMMAD SOBRI MENCAMPUR BEKATUL FERMENTASI PADA PAKAN AYAM. SEJAK MENERAPKAN PENEMUAN PROF DR SUJONO, MKES DARI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG, BOBOT AYAM POTONG PETERNAK DI KECAMATAN DAU, MALANG, JAWA TIMUR, ITU NAIK SAMPAI 2 KG/EKOR PADA UMUR 35 HARI. SEBELUMNYA 1,7 KG PER EKOR.
Sumber: http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=8&artid=2039

Proses Pembuatan Jerami Padi Fermentasi


Pembuatan jerami padi fermentasi dengan sistem terbuka.  Proses fermentasi terbuka dilakukan pada tempat terlindung dari hujan dan sinar matahari langsung. Bahan-bahan yang digunakan untuk menghasilkan 1 ton jerami fermentasi adalah : 1 ton jerami padi segar, Probion (probiotik) 2,5 kg, Urea 2,5 kg, dan air secukupnya.

Cara Pembuatan :

Proses pembuatan dibagi dua tahap, yaitu tahap fermentatif dan pengeringan serta penyimpanan. Pada tahap pertama, jerami padi yang baru dipanen dari swah dikumpulkan pada tempat yang telah disediakan, dan diharapkan masih mempunyai kandungan air 60%. Jerami padi segar yang akan dibuat menjadi jerami padi fermentasi ditimbun dengan ketebalan kurang lebih 20 cm kemudian ditaburi dengan Probion dan urea. Tumpukan jerami tersebut dapat dilakukan hingga ketinggian sekitar 3 meter.  Setelah pencampuran dilakukan secara merata, kemudian didiamkan selama 21 hari agar proses fermentatif dapat berlangsung dengan baik.  Tahap kedua adalah proses pengeringan dan penyimpanan jerami padi fermentasi. Pengeringan dilakukan dibawah sinar matahari dan dianginkan sehingga cukup kering sebelum disimpan pada tempat yang terlindung. Setelah proses pengeringan ini, maka jerami padi fermentasi dapat diberikan pada ternak sebagai  pakan pengganti rumput segar.
Dikutip dari berbagai sumber

Pengawetan Dedak Padi dengan Cara Fermentasi






Dedak Padi 

Dedak padi merupakan hasil samping penggilingan padi. Ketersediaannya sepanjang tahun berfluktuasi. Kondisi ini disebabkan karena dedak padi pada musim panen melimpah, sebaliknya pada musim kemarau berkurang. Selain itu dedak padi tidak dapat disimpan lama. Keadaan ini disebabkan karena ketidakstabilan dedak padi selama penyimpanan. Ketidakstabilan ini disebabkan karena aktifitas enzim. Aktifitas enzim ini dapat menyebabkan kerusakan atau ketengikan oksidatif pada komponen minyak yang ada dalam dedak padi. Suatu teknologi penyimpanan dedak padi dengan cara fermentasi anaerob dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut di atas. Teknologi ini dapat memperpanjang waktu simpan dedak padi. Selain itu, teknologi ini dapat menurunkan kandungan asam fitat dedak padi sehingga penggunaannya dapat lebih maksimal dalam ransum. Asam fitat ini mampu berikatan dengan mineral, protein dan pati membentuk garam atau senyawa komplek, seperti: fitat-mineral, fitat-protein, fitat mineral protein dan fitat-mineral-protein-pati sehingga mineral, protein dan pati yang terkandung dalam ransum tidak dapat optimal digunakan oleh ternak. Irianingrum (2009) melaporkan bahwa perlakuan fermentasi dan lama penyimpanan dapat menurunkan kandungan asam fitat dari 6,70% menjadi 2,07% dan meningkatkan nilai Koefisien Cerna Bahan Kering (KCBK) dari 63,06% menjadi 69,72%. Dedak yang telah difermentasi dapat disimpan dalam waktu 4 bulan (Maragi, 2010).
Fermentasi
Fermentasi merupakan proses pemecahan senyawa organik menjadi senyawa sederhana dengan melibatkan mikroorganisme. Tujuan fermentasi adalah untuk meningkatkan kandungan nutrisi suatu produk sehingga menjadi lebih baik. Selain itu juga untuk menurunkan zat anti nutrisi.
Medium fermentasi dapat dibagi tiga:
a. Medium padat: medium tdk larut, tetapi cukup lembab utk keperluan mikrobia (KA 12–60 %).
b. Medium semi padat: medium tdk larut, kelembaban cukup (KA 65 –80 %).
c. Medium cair: medium cair substrat larut dan atau tak larut (KA > 80 %) (Pujaningsih, 2005).
Teknologi fermentasi anaerob yang digunakan pada pengawetan dedak padi dapat memanfaatkan starter bakteri asam laktat (BAL). Penambahan bakteri asam laktat ini akan mempercepat proses fermentasi. 
Bakteri Asam Laktat (BAL)
Bakteri asam laktat (BAL) adalah bakteri anaerob fakultatif yang dapat hidup pada tanaman, saluran pencernaan hewan maupun manusia. Bakteri ini tidak bersifat patogen dan aman bagi kesehatan sehingga sering digunakan dalam industri pengawetan makanan dan minuman (Hardiningsih et al., 2006), seperti: yogurt, minuman fermentasi, mentega fermentasi, keju, saos, kedelai dan sake (Januarsyah, 2007). Bakteri asam laktat dapat menjaga mutu makanan karena dapat mengendalikan pertumbuhan bakteri pengganggu dan pembusuk dengan memproduksi asam organik, hidrogen peroksida, diasetil dan bakteriosin. Bakteriosin merupakan suatu senyawa protein yang memiliki sifat bakterisidal terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Bakteriosin aman digunakan sebagai pengawet makanan karena dapat didegradasi oleh enzim protease yang terdapat dalam tubuh hewan maupun manusia.
Bakteri asam laktat, baik yang bersifat homofermentatif maupun heterofermentatif memanfaatkan substrat yang tersedia pada lingkungannya dengan hasil akhir berupa energi dan asam-asam lemah, seperti: asam laktat, asam asetat serta CO2. Keberadaan asam laktat sebagai produk metabolisme dapat bersifat sebagai salah satu faktor penghambat bagi pertumbuhan mikroorganisme lain yang bersifat tidak baik (Lunggani, 2007). Bakteri asam laktat mempunyai kemampuan membinasakan bakteri saluran pencernaan yang patogen karena menghasilkan D, L atau DL asam laktat yang terfermentasi (Huis in’t Veld et al., 1994).
Asam laktat yang dihasilkan selama proses fermentasi akan berperan sebagai zat pengawet sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme pembusuk. Bakteri asam laktat secara alami ada di tanaman s€hingga dapat secara otomatis berperan pada saat fermentasi,, tetapi untuk mengoptimumkan fase ensilase dianjurkan untuk melakukan penambahan aditif, seperti inokulum bakteri asam laktat dan aditif lainnya untuk menjamin berlangsungnya fermentasi asam lakat yang sempuma (Ridwan et al., 2005). 
Starter
Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi. Media starter biasanya identik dengan media fermentasi. Media ini diinokulasi dengan biakan murni dari agar miring yang masih segar. Volume starter disesuaikan dengan volume media fermentasi yang akan disiapkan. Dianjurkan volume starter tidak kurang dari 5% dari volume media yang akan difermentasi. Pemakaian starter yang terlalu banyak tidak dianjurkan karena tidak ekonomis. 
Pembuatan Dedak Padi Fermentasi
Dedak padi yang akan diawetkan adalah dedak padi yang masih baru dan segar. Dedak padi selanjutnya ditambah air (50% dari berat dedak padi [v/w]). Air yang ditambahkan sebelumnya dicampur terlebih dahulu dengan molases (3% dari berat dedak padi). Molases merupakan hasil samping industri tebu yang masih mengandung gula cukup tinggi terutama sukrosa (34%). Dedak padi yang telah ditambah air diaduk-aduk sampai merata, selanjutnya dimasukkan drum atau kantong plastik dan ditutup rapat-rapat. Dedak padi yang sudak dimasukkan drum atau plastik selanjutnya difermentasi selama 2 bulan pada suhu kamar (Balitnak, 2010). Apabila dalam pembuatan dedak padi fermentasi molases sukar diperoleh, maka molases dapat diganti dengan gula pasir.
Oleh DR. Agung Prabowo, SPt, MP


Selasa, 15 Januari 2013

Pondok Domba merupakan usaha yang bergerak di bidang pengadaan dan budidaya domba dibawah naungan Koperasi Serba Usaha (KSU) Maju Mandiri, Akte Notaris No. 59, tanggal 17 April 2012,   Badan Hukum No. 518.503/32/BH/KK/2012 yang dikeluarkan oleh Kantor Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia.

Pondok Dombah beralamat di Jalan Pelita, Blok C No. 6 Perumahan Taman Kota Sunggal, Desa Medan Krio, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang - Sumatera Utara, sebagai kantor pemasaran.

Kami mempunyai farm dan kandang seluas 1,5 Ha sebagai pusat budi daya yang berlokasi di Tanjung Morawa-Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara.

Rabu, 09 Januari 2013

Untuk informasi hubungi kami di outlet terdekat di kota Medan atau ke 

Office      :Jalan Pelita, Blok C Nomor 6, Perumahan Kota Taman Sunggal, Medan Krio, Kecamatan Sunggal - Kabupaten Deli Serdang

Kandang :  Jalan besar Limau Mungkur, Tanjung Morawa- Deli Serdang.

Contact Person :

Sutan Muda Harahap, HP : 0813 702 04 175

Omar Mochtar Harahap, HP 0877 6621 5336, 0813 968 38 463

Hikmah Malau, 0852 615 55 400

Selasa, 08 Januari 2013

Fermentasi sari tanaman dan proses pembuatan




Daun tanaman dapat dimanfaatkan untuk bahan baku mengumpulkan mikroorganisme. Fungsi dari sari tanaman ini adalah memberi makanan pada mikroorganisme. Bahan-bahan yang diperlukan adalah 6 kg sayuran, daun-daunan atau batang pisang. 3 kg gula.

  1. Sayuran, daun atau batang pisang dipetik sebelum matahari muncul atau sebelum embun padi hilang, karena embun pagi sangat sesuai untuk aktifitas mikroorganisme. semua bagian tanaman dapat digunakan
  2. Sayuran jangan dicuci. Cincang menjadi 3 s/d 5 bagian. Bila batang pisang potong setebal 2 cm dan kemudian diperkecil menjadi 1 s/d 2 bagian. Bahan yang dibutuhkan sekitar 6 kg.
  3. Bagilah sayuran menjadi dua bagian sama besar.
  4. Ambil bagian pertama dan letakkan dalam wadah tanah liat. Campur dengan 1 kg gula coklat. Padatkan campuran tersebut.
  5. Ambilah bagian yang lain dan campurlah dengan gula coklat 1 kg masukkan dalam wadah yang sama dan tekanlah hingga padat.Tambahkan 1 kg gula coklat di atas kedua campuran tersebut.
  6. Ambillah kantong plastik dan penuhilah dengan air dan ikatlah. Letakkan kantong ini di atas sehingga campuran tetap berada di bawah  dan tidak ada udara dalam campuran. Tutupi wadah tersebut dengan kertas dan biarkan selama 1 hari.
  7. Buang kantong air dan tutupi kembali wadah tersebut. Letakkan wadah pada tempat yang tidak ada semutnya. Biarkan selama 5 s/d 7 hari. setelah 5 s/d 7 hari campuran ini sudah siap digunakan
  8. Di sarankan untuk tidak mencampur berbagai macam sayuran atau bahan karena setiap sayuran atau bahan mempunyai mikroorganisme yang berbeda sehinga akan mempunyai pertumbuhan yang berbeda. Larutan yang baik tidak mempunyai bau alkohol.
Penggunaan.
Larutan ini bisa digunakan untuk  menyiram sayuran dari pembenihan hingga masa panen. campurlah bahan ini dengan perbandingan 1:500 (satu banding lima ratus). Larutan ini juga merangsang pertumbuhan tanaman, melapukkan bahan organik dalam tanah, perbaikan tanah dan mendorong kehidupan mikroorganisme dalam tanah.

EM-Lestari 1
Bahan:
  1. Buah-buahan yang sudah masak sebanyak 1 kg. Berbagai macam buah bisa digunakan sebagai bahan.
  2. Tetes tebu/nira/legen/air gula 1 liter.
Cara pembuatan:
Buah yang sudah tua dan masak diblender lalu disaring diambil airnya. Sari buah kemudian dicampur dengan tetes/legen/aren/nira dengan perbandingan 1:1. Simpan larutan atau bahan tersebut pada tempat yang terbuat dari gerabah di tempat sejuk. Diamkan selama selama 15 hari atau dua minggu. Setelah 15 hari larutan  sudah siap digunakan. Larutan ini setelah 15 hari disimpan mempunyai  khasiat yang sama dengan EM atau M-bio. Keuntungan lainnya adalah bebas dari kimia dan dapat digunakan sebagai pupuk cair dan juga mempercepat pengomposan jerami.
Untuk pupuk cair setiap 1 liter EM-Lestari dicampur dengan 10 liter air. Gunakan untuk menyiram tanaman. Larutan tersebut sudah berfungsi sebagai pestisida alami dan pupuk cair bagi tanaman, bisa juga untuk mempercepat pembuatan kompos.

EM- Lestari  2
Bahan:
1.   air leri (air cucian beras) yang kental 1 liter
2.   EM-lestari 10 sendok makan
3.   alkohol kadar 40% 10 sendok (bila tidak ada bisa diganti dengan air tape 30 sendok)
4.   cuka 10 sendok makan
5.   gula pasir 1 ons

Cara pembuatan:
Semua bahan dicampur jadi satu dalam tempat atau wadah tertutup selama 15 hari. Kocok setiap pagi dan sore. Setelah 15 hari larutan tersebut sudah dapat digunakan dan sudah menjadi EM-lestari 2
Kegunaan:
EM-lestari 2 ini dapat digunakan sebagai pupuk cair dan mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Hama yang dapat dikendalikan antara lain: wereng, ulat, walangsangit, banci dan serangga lain.
Cara penggunaan:
Campurlah 1 sendok EM-lestari 2 dengan 1 liter air. semprotkan pada tanaman yang terserang hama. Bila digunakan sebagai pupuk berikanlah pada akar tanaman. (dikutip dari berbagai sumber)